IKABDI - Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia

Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia

Indonesia | English
Minggu, 15 April 2012

Evaluation of Laparoscopic-Assisted Abdominoperineal Resection in Distal Third Rectal Carcinomapatients

 

EVALUATION OF LAPAROSCOPIC-ASSISTED ABDOMINOPERINEAL RESECTION IN DISTAL THIRD RECTAL CARCINOMA PATIENTS

 

Siregar Erina Outry, Rudiman Reno

Digestive Surgery Division, Hasan Sadikin General Hospital, Bandung

 

ABSTRACT

 

Background : Since the abdominoperineal resection as first described by Ernest W Miles in 1908, the technique and its indication have changed in many respects. Laparoscopy ,which allows unique abdominal access,is not intended to replace the conventional abdominal procedures but rather to provide alternate, perhaps less traumatic,strategies for accomplishing these well-defined procedures.

 

Method : We will report 3 cases of distal third rectal Carcinoma stage II and III, in all whom perform laparoscopic—assisted abdominoperineal resection from September 2010 until January 2011.

 

Result : The average age of our patients is between 38 to 49 years old and all of them are women. Two of our patients are stage II distal third rectal cancer and the other is stage III. Duration of operations were between 6 until 8,5 hours. There was no intra operative complication and we found one post operative perineal infection. The average length of stay were 5 until 10 post operative days.

 

Conclusion : Laparoscopic abdominoperineal resection in the management of distal third rectal carcinoma is an advanced-level,minimal-access procedure and a safe procedure to be done ,requiring more training, experience, patience and much time than conventional intervention.

 

Key words : laparoscopic abdominoperineal resection, rectal carcinoma.

 

INTRODUCTION

Sejak reseksi Abdominoperineal pertama kali diperkenalkan oleh Ernest W. Miles pada tahun 1908, tekhnik dan indikasinya telah banyak mengalami perubahan. Reseksi abdominoperineal pada prinsipnya diindikasikan untuk keganasan pada sepertiga distal rectum.

Laparaskopi, yang memberikan akses unik, tidak dimaksudkan untuk menggantikan prosedur abdominal yang konvensional, tetapi lebih untuk memberikan alternative therapy dengan kemungkinan trauma yang lebih kecil. Pemilihan prosedur berdasarkan pertimbangan prosedur mana yang lebih cocok untuk pasien dan underlying diseasenya.

Indikasi yang paling umum untuk reseksi abdominoperineal adalah Ca recti 1/3 distal,baik untuk palliative maupun kuratif.

Pada ketiga kasus yang dilaporkan dilakukan untuk tujuan kuratif.

Profil ketiga pasien :

No

Umur / Jenis Kelamin

Staging

1.

38 tahun/ Perempuan

T3NoMo

2.

41 tahun/ Perempuan

T3N1Mo

3.

49 tahun/ Perempuan

T4NoMo

 

Tekhnik operasi :

Insufflasi Pneumoperitoneum/ CO2 sampai dengan tekanan 12-15 mmHg setelah aseptic antiseptik pada pasien dalam posisi supine, melalui insisi kecil/10mm secara vertical/semilunar pada infraumbilikal( port I/trocar 10mm )

Dimasukkan laparoskop angle 30 derajat melalui port I, kemudian dilakukan eksplorasi abdomen untuk melihat kelainan di sekitarnya dan untuk menemukan apakah terdapat metastase. Untuk melihat liver, pasien berada dalam posisi anti-tredelenburg; jika fasilitas telah tersedia, ultrasound laparaskopik liver dapat dilakukan.

Melalui insisi 10mm di kontra mc Burney dipasang trocar 10mm/port II,selanjutnya port III dan IV diregio iliaka kanan dan kiri menggunakan trocar 5 mm.

Gambar posisi pasien :

posisi-pasien-operasi-bedah-digestif

 

 

 

ABDOMINAL PORTION :

Pasien ditempatkan dalam posisi Trendelenburg dan miring kekiri 30 derajat , sehingga usus halus akan berada di kuadaran kanan atas abdomen, dan tidak diperlukan lagi retraksi usus halus. Kolon sigmoid dipegang dengan menggunakan klem Babcock dari paraumbilikal kanan ke sisisebelah kanan pasien. Manuver ini akan memberikan traksi pada peritoneum posterior, melewati vasa iliaka. Dilakukan insisi sepanjang White line of Toldt dengan menggunakan scalpel ultrasonic . Skalpel ultrasonik secara bertahap dimasukkan di bawah peritoneum dan dilanjutkan ke dinding lateral pelvic melalui peritoneum anterior untuk mendorong mesorektum dan mesosigmoid ke arah medial, menjauhkannya dari struktur retroperitoneal. Identifikasi ureter( ureter akan melintasi vasa iliaka). Pisahkan kolon sigmoid dari dinding lateral cephalad sepanjang kolon descenden sampai flexura lienalis.

 

MOBILISASI FLEXURA LIENALIS :

 

 

Ketika pasien beradaa dalam posisi Trendelenberg, kolon transversum dan dinding visceral berada jauh dari lien dan lambung. Dilakukan retraksi flexura lienalis dengan klem babcock, mesenterium dari kolon desenden dapat dipisahkan dari fasia Gerota sampai flexura lienalis,sehingga Kolon sigmoid, desendens dan transversum kiri menjadi mobile.

 

DIVISI A. MESENTERICA INFERIOR :

mesenterica-inferior-bedah-digestif

mesenterica-inferior-bedah-digestif3

 

 

 

 

KOMPLIKASI

Komplikasi dapat dibagi menjadi komplikasi intraoperasi dan komplikasi post-operasi. Komplikasi intraoperatif berupa;

  1. Perdarahan mungkin terjadi pada saat dilakukan diseksi mesenterium sigmoid dan perdarahan presakral ketika diseksi presakral fasia.

  2. Laserasi usus halus

  3. Trauma Ureter.

Komplikasi post-operatif;

  1. Perdarahan

  2. Prolonged ileus

  3. Wound infection.

 

Yang dievaluasi pada ketiga pasien tersebut:

  1. Komplikasi intra operatif

  2. Operative time

  3. blood loss

  4. Komplikasi post operatif

  5. Length of hospital stay

 

RESULT AND OUTCOME

Pasien I perempuan 38 th, AdenoCa recti 1/3 distal T3N0M0:

  • Tidak ditemukan komplikasi intra operatif dan post operatif.

  • Operatif time 8jam 30menit

  • Blood loss 650 cc

  • Length of hospital stay : 5 hari

Pasien ke II,perempuan 41 th, AdenoCa recti 1/3 distal T3N1M0

  • Tidak ditemukan komplikasi intra operatif dan post operatif

  • Operative time 7 jam

  • Blood loss 500 cc

  • Length of hospital stay : 6 hari

Pasien ke III,perempuan 49 th, AdenoCa recti 1/3 distal T4N0M0 + DM terkontrol

  • Tidak ditemukan komplikasi intra operatif,tapi ditemukan komplikasi post opetratif berupa perineal /port site infection

  • Operative time 6 jam

  • Blood loss 650 cc

  • Length of hospital stay : 10 hari

 

DISKUSI

Pada ketiga kasus yang dikerjakan laparoscopic abdominoperineal resection semua perempuan berusia antara 31 sampai 49 tahun dengan adeno ca recti stadium II dan III,tidak ditemukan komplikasi intra operatif, rata rata kehilangan darah selama prosedur 600 s/d 800 cc. Penyulit yang ditemukan selama prosedure adalah memperkirakan diseksi pelvis sudah cukup untuk dilanjutkan dengan perineal prosedure.Komplikasi post operatif ditemukan pada kasus ketiga, berupa perineal site infection sehingga pasien dirawat lebih lama dibanding dua pasien sebelumnya.

 

KESIMPULAN

Laparoscopic abdominoperineal resection lebih memungkinkan total mesorectal excision,dan merupakan ekstensif operation yang menghindari insisi dinding abdomen yang panjang,cepat recovery dan nyeri minimal.

Laparascopic colorectal surgery melalui tahapan dan curve learning yang panjang untuk suatu keahlian,dibutuhkan sekitar 30 s/d 50 kasus.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kelli BM. Colon, rectum and anus. Dalam: Brunicardi FC, Anderson D, Dunn DL, penyunting. Schwartz’s principles of surgery. Edisi ke-8. New York: McGraw-Hill Medical Publising; 2005. h. 1055–110.

  2. WHO, IARC. Colorectal cancer in Southern Asia (Diunduh 24 Januari 2005). Tersedia dari: www.depdb.iarc.fr/globocan2002.htm

  3. Kelompok Kerja Adenokarsinoma Kolorektal. Panduan pengelolaan adenokarsinoma kolorektal; 2006.

  4. Birbeck FK. Pathology and staging of rectal cancer. Dalam: Audisio RA, Gerghty JG, Longo WE, penyunting. Modern management of cancer of the rectum. London: Springer-Verlag Limited; 2001. h. 7–14.

  5. Shanmugam C, Katkoori VR, Jhala NC, Grizzle WE, Siegal GP, Manne U. p53 nuclear accumulation and Bcl-2 expression in contiguous adenomatous components of colorectal adenocarcinomas predict aggressive tumor behavior. (Diunduh 10 November 2009). Tersedia dari: www.jhc.org

  6. McDermott U, Longley DB, Galligan L, Allen W, Wilson T, Johnston PG. Effect of p53 status and STAT1 on chemotherapy-induced, fas-mediated apoptosis in colorectal cancer. (Diunduh 21 Oktober 2009). Tersedia dari: www.aacrjournals.org

  7. Debas HT. Small and large intestine. Dalam: Gastrointestinal surgery : pathophysiology and management. New York: Springer-Verlag Inc; 2004. h. 296-300.

  8. Folprecht G, Seymour MT, Saltz L, Douillard JY, Hecker H, Stephens RJ, et all. Irinotecan/fluorouracil combination in first-line therapy of older and younger patients with metastatic colorectal cancer: combined analysis of 2,691 patients in randomized controlled trials. (Diunduh 5 November 2009). Tersedia dari: www.jco.ascopubs.org

  9. Mark WL. Colorectal polyps and cancer. Dalam: Norton JA, Chang AE, Lowry SF, Pass HI, penyunting. Basic science and clinical evidence. New York: Springer Inc; 1995. h. 702–5.

  10. Moore KL, Agur AM. Abdomen. Dalam: Sun B, penyunting. Essential clinical anatomy. Edisi ke-2. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins; 2002. h. 151-164.

  11. George CJ. Cancer of large intestine. Dalam: Way LW, Doherty GM, penyunting. Current surgical diagnosis and treatment. Edisi ke-11. Boston: McGraw-Hill Companies Inc; 2003. h. 716–24.

  12. Prins HA, Antonio M Lacy. Minimally Invasive Low Anterior Resection and Abdominal Perineal Resection. Dalam: Atlas of Minimally Invasive Surgery. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2009. h. 135-138.

  13. Dulucq, J. Louis. Laparascopic Left Colectomy. Dalam: Tips and Technique in Laparascopic Surgery. Germany; Springer Verlag Berlin; 2005. h. 119-135.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lihat Artikel Lainnya »

BERBAGI DENGAN TEMAN

KOMENTAR